Wisata Tak Biasa, Melihat Persahabatan Duyung Dan Pak One Di Alor

By | March 26, 2017

ALOR, Bongarzonefuneralhome.us – Onesimus Laa (51) mematikan mesin kapal kayunya. Kemudian laki-laki yg akrab disapa One ini berdiri dan berkata, “Datang sini, ini ada tamu datang”.
 
Tak berapa lama muncul makhluk laut yg meliukan tubuhnya mengikuti gelombang. Kulitnya tampak licin berwarna abu-abu pucat. Liuk terakhir makhluk itu memamerkan ekornya yg besar, berukuran sekitar sesuatu meter. Itulah duyung yg memiliki nama ilmiah Dugong dugon. 
 
“Saya pertama kali bertemu dia (dugong) tahun 2009. Pertama aku pergi dengan kapal dia ikuti saya. Pulang dari laut dia antar saya, ada sekitar empat kali,” cerita One. 
 
Ia yakin pertemuannya dengan dugong diawali oleh niatnya yg ingin menjaga lingkungan. Sejak tahun 2007, One memang aktif menanam tanaman bakau di Pulau Sika, pulau tidak berpenghuni di daerah timur laut Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
 
Tahun 2009, One didampingi oleh WWF Indonesia, berusaha melestarikan magrove dan biota laut dilindungi di kawasan perairan Alor, khususnya Pantai Mali. Bagikan sepasang sahabat karib, dugong dan One seakan dapat berkomunikasi sesuatu sama lain.
 
“Dugongnya tiba kalau aku pakai motor perahu yg ini,” kata One.
 
Tak cuma suara motor perahu, menurut One, dugong juga mengerti gerakan tubuh. Contohnya ketika One berenang berputar menyerupai bentuk spiral, dugong juga mulai mengikuti. Atau, ketika One menyuruh dugong pergi karena ia mulai pulang, One mulai melambaikan tangan. Lantas, dugong tersebut mulai pergi dan tidak mengikuti One. 
 
Bongarzonefuneralhome.us/Silvita Agmasari Onesimus Laa, aktivis lingkungand ari Alor, NTT
 “Kalau aku mau ke luar kota dua hari, aku pesan ke Dugong supaya dia jangan berenang keluar teluk, nanti takut di bom orang. Saya pulang dia masih ada di teluk,” kata One. 
 
Betapa beruntungnya ketika One mengizinkan tim media dan WWF Indonesia bagi mengamati tingkah laku dugong di perairan Pantai Mali. Kami diperbolehkan berenang di laut buat melihat dugong, tapi dengan syarat tertentu.
 
Syarat itu antara yang lain tidak boleh menertawakan dugong dan paling utama tidak boleh menyentuh dugong sekalipun dugong menghampiri. Apabila dugong mendekat, kalian harus berenang menjauhi dugong.
 
“Biasa ada beberapa dugongnya, tapi sesuatu lagi habis melahirkan. Anaknya masih kecil sekali. Saya lihat pertumbuhan anak dugingnya sangat lambat,” kata One menunjuk dugong dengan kisaran ukuran tiga meter.
 
Pengalaman luar biasa adalah ketika melihat dugong secara segera di habitatnya dan melihat dugong makan lamun di dasar laut. Mulutnya mengunyah lamun layaknya sapi mengunyah rumput.  
 
Pariwisata bertanggung jawab
 
Lama kelamaan dugong di Pantai menjadi daya tarik wisata di Alor. Meski begitu One yg dapat disebut sebagai pawang dugong tidak lantas menjadikan dugong sebagai obyek wisata. One memperlakukan dugong layaknya rekan dengan mengikuti dasar yg memikirkan keberlanjutan dugong tersebut. 
 
“Wisata yg bertanggung jawab adalah wisata yg mengutamakankan aspek lingkungan, mendorong keberlanjutan. Supaya aset atau modal aneka hayati pariwisata tetap terjaga,” kata Marine and Fisheries Campaign Coordinator WWF Indonesia, Dwi Aryo Tjiptohandono. 
 
Bongarzonefuneralhome.us/Silvita Agmasari Dugong di Pantai Mali, Alor.
One sudah melaksanakan dan menghimbau wisatawan pariwisata berkelanjutan sesuai panduan bagi wisata bahari mengamati mamalia laut. Di antaranya dengan membiarkan dugong bergerak bebas, tidak menyentuh atau mengejar dugong, tidak memberi makan, dan mengatur kecepatan kapal. 
 
“Ke depan aku tidak mau wisatawan berenang bersama dugong, karena dugong ini semakin lama semakin mendekat ke orang. Biar diamati dari perahu,” kata One. 
 
One membatasi kunjungan wisatawan buat mengamati dugong, terbatas sesuatu perahu isi lima orang dengan sehari cuma boleh ada beberapa kali kunjungan. Untuk harga, One tidak mematok harga alias disesuaikan dengan kondisi.
 
Tak cuma pariwisata, One yg menjabat sebagai Ketua Kelompok Nelayan Alor juga melarang perburuan hewan langka dan menghimbau penangkapan ikan dengan metode ramah lingkungan.
 
Saat ini dugong termasuk makhluk laut yg terancam punah karena jumlahnya yg selalu berkurang. Ancaman buat dugong antara yang lain faktor alam, manusia, dan biologis. Di Indonesia perburuan dugong dikerjakan bukan buat daging, melainkan taring dan air mata dugong yg menurut mitos memiliki khasiat tertentu. 


Sumber: Travel Kompas