Umur Panjang Berkat Wasabi

By | March 3, 2017

UDARA di Azumino, Prefektur Nagano, Jepang, akhir Januari itu, nyaris mencapai nol derajat. Selubung salju pun enggan melepaskan cengkeramannya terhadap rerumputan.

Namun, cerita dan keramahan Hama Shigetoshi (72) seolah mencairkan kebekuan, serupa hangatnya aliran Sungai Tadegawa yg mendenyutkan Perkebunan Wasabi Daio di Azumino.

”Dandanan aku memang seperti samurai. Namun, panggil saja aku master wasabi. Saya pencinta wasabi,” ujar Shigetoshi memperkenalkan diri kepada kami.

Perawakannya memang mengesankan dirinya seorang ”master”. Jenggotnya yg sudah memutih menandakan panjangnya kehidupan yg sudah dilewati.

”Saya kini mencurahkan semua sisa hidup ke perkebunan wasabi ini,” ujar Shigetoshi.

(BACA: Kusatsu Onsen, Permandian Air Panas Terkenal di Jepang)

Pria yg puluhan tahun menekuni profesi jurnalis itu lantas menceritakan kisahnya, mengapa ia akhirnya berlabuh ke Azumino, kota kecil di Nagano.

Ia memilih meninggalkan gemerlap hidup dan kemewahan di Tokyo, kota yg hampir separuh umurnya ia tinggali, demi mencari kepingan hidupnya yg hilang dan menekuni wasabi.

”Saya berasal dari sini (Azumino). Perkebunan (wasabi) ini mempertemukan aku dengan wanita pertama yg sangat aku cintai, Yoshiko. Waktu itu aku masih berusia 15 tahun, sementara dia 14 tahun. Ini sebetulnya rahasia saya. Tolong, jangan beri tahu ke istri aku karena dia mampu sangat cemburu,” tuturnya sambil tertawa dan memamerkan foto hitam putih Yoshiko, mantan pacarnya ketika remaja.

KOMPAS/YULVIANUS HARJONO Pemandangan Resor Ski Hakuba Goryu di Nagano, Jepang, dari atas gondola.

Keinginan bertemu kembali dengan Yoshiko kian memupuk motivasi Shigetoshi pulang ke kampung halamannya dan menjadi pegiat wasabi, umbi pedas penuh khasiat yg sangat tersohor di Jepang.

(BACA: Kanagawa, Destinasi Antimainstream yg Keren di Jepang)

Namun, sayang, takdir tak mengamini kehendaknya. Keduanya tak lagi bertemu sejak lebih dari setengah abad silam.

”Entah ada di mana dia sekarang. Saya kira dia telah berkeluarga, begitu pula saya. Hidup selalu berjalan dan kini aku milik seorang anak perempuan. Cantik bukan?” ujarnya sambil memamerkan foto putrinya yg kini berusia 37 tahun dan berparas ayu.

Bangkitnya kembali romantisisme kisah cinta Shigetoshi di tempat itu memang bisa dimaklumi. Salah sesuatu perkebunan wasabi terbesar di Jepang—seluas 15 hektar—itu tidak lekang digerus pembangunan.

Suara gemercik kincir air, jernihnya aliran Sungai Tadegawa, dan hijaunya ladang wasabi tetap tak berubah seperti 57 tahun lalu, merupakan saat Shigetoshi dan Yoshiko masih mengikat janji cinta.

Inspirasi film

Tidak heran, sutradara ternama yang berasal Jepang, Akira Kurosawa, menjadikan tempat itu sebagai salah sesuatu inspirasinya dalam membuat film populer, Dreams, pada 1990 silam.

Film bergenre realisme-magis yg pembuatannya melibatkan beberapa tokoh Hollywood, George Lucas dan Steven Spielberg, itu mengisahkan mimpi-mimpi Kurosawa soal Jepang yg indah dan menakjubkan.

Salah sesuatu episode film itu, merupakan ”Kampung Berkincir Air”, khusus berkisah tentang pergulatan hidup di Perkebunan Wasabi Daio.

KOMPAS/YULVIANUS HARJONO Suasana di Kastil Matsumoto, kastil yg dibuat pada abad ke-16, di Prefektur Nagano, Jepang.

Para tetua di Daio menjaga tradisi kuno bagi mempertahankan keasrian alam di kaki Pegunungan Alpen Jepang dari gempuran teknologi maju.

Meskipun terasing, mereka hidup bahagia dan berumur panjang berkat keselarasan dengan alam di daerah pegunungan yg disebut sebagai ”atap Jepang” itu.

Perkebunan Wasabi Daio, yg berdiri sejak 1915 silam, adalah salah sesuatu ”permata” Jepang, khususnya di Prefektur Nagano. Perkebunan itu yaitu salah sesuatu penyumbang wasabi segar terbesar di Jepang.

Produknya bahkan diekspor ke sejumlah negara, termasuk di Eropa. Di Inggris dan Perancis, harganya dapat mencapai 160 dollar AS atau Rp 2,1 juta per kilogram. Itu menjadikannya salah sesuatu lobak termahal di dunia.

Mahalnya harga itu tak terlepas dari sulitnya membudidayakan tanaman itu. Wasabi cuma mampu tumbuh di daerah dataran tinggi, merupakan 400-750 meter di atas permukaan laut, dengan suhu air 10-15 derajat celsius.

Air yg digunakan bagi tumbuh pun harus sangat murni dan sejernih kristal.

Air yg mengaliri Perkebunan Daio, misalnya, berasal dari aliran gletser atau mencairnya salju dari Pegunungan Alpen Jepang utara. Pestisida atau zat kimia yang lain pun diharamkan.

”Wasabi yg asli cuma tumbuh di tempat seperti ini, merupakan alam dan air yg sangat murni,” ujar Shigetoshi yg tengah menulis buku berjudul ‘Wasabi dan 100 Tahun Perkebunan Daio’.

KOMPAS/YULVIANUS HARJONO Sejumlah warga Desa Hakuba, Prefektur Nagano, Jepang, membuat patung es

Wasabi adalah salah sesuatu rahasia warga Nagano dan Jepang umumnya buat hidup berumur panjang.

Umbi-umbian, yg olahannya tidak jarang disajikan bersama sushi dan sashimi, itu konon memiliki khasiat mencegah kanker dan penuaan dini.

Senyawa allyl isothiocyanate yg banyak terkandung di dalamnya dapat menumpas radikal bebas dan bakteri basil perusak tubuh.

Fakta menunjukkan, Nagano yaitu prefektur yg memiliki angka usia harapan hidup tertinggi di Jepang.

Rata-rata usia hidup warga di Nagano adalah 80,88 tahun buat pria dan 87,18 tahun bagi wanita.

Angka rata-rata harapan hidup itu adalah yg tertinggi dari daerah mana pun sejagat ini.

”Di Nagano, banyak warga yg memiliki kebun sayur sendiri. Mereka mencari makna hidup sambil selalu beraktivitas, bercocok tanam. Inilah yg membuat warga lansia di sini tetap sehat hingga berumur panjang. Inilah surga tempat hidup kami,” ungkap Oota Humitoshj, Wakil Kepala Desa Hakuba, salah sesuatu komunitas desa di Prefektur Nagano.

Warga lansia trengginas

Prefektur Nagano, khususnya Hakuba, memang laiknya surga, khususnya untuk para warga lansia, di Jepang.

KOMPAS/YULVIANUS HARJONO Kincir air ikonik dan kejernihan Sungai Tadegawa yg membelah Perkebunan Wasabi Daio, Nagano, Jepang.

Dalam perjalanan akhir Januari lalu, nyaris tak ditemui warga lansia yg sekadar duduk santai di rumahnya buat menikmati hari tua.

Hampir semuanya, baik yg masih berusia 50 tahun maupun di atas 70 tahun, sibuk beraktivitas dengan trengginas.

Salah satunya adalah Tsumoru Matsumoto (56), pemilik penginapan di Desa Hakuba, Nagano.

Ia sangat lincah menjalankan berbagai aktivitas, akan dari berbelanja, memasak, mengantarkan tamu, hingga mengajar berseluncur ski es.

Bermain ski di ketika musim dingin, akhir November hingga Maret, menjadi salah sesuatu kegiatan massal yg dikerjakan warga di Hakuba.

Saat musim dingin, desa di kaki Pegunungan Alpen Jepang itu dipenuhi salju tebal yg seperti tumpukan bubuk susu.

Matsumoto pun sempat mengajak kita berseluncur di Hakuba Goryu Iimori, sesuatu dari lima resor ski di desa itu.

Meski tidak lagi muda, ia masih lincah berseluncur dan meliuk-liuk di lintasan ski.

Malam harinya, kalian mencicipi onsen alias pemandian air panas yg menjamur di Jepang pada era Meiji (1867-1912). Di Hakuba terdapat sedikitnya lima onsen yg bersumber dari mata air abadi Pegunungan Alpen Jepang.

KOMPAS/YULVIANUS HARJONO Pantulan gambar orang bermain ski di Resor Ski Hakuba Goryu Iimori, Prefektur Nagano, Jepang.

”Tidak perlu malu. Ayo masuk, bawa saja handuk kecil. Pemandian ini sangat bagus bagi kesehatan,” kata Matsumoto mengusir kecanggungan kita yg harus melepas semua busana.

Dan, benar saja. Perasaan canggung berganti kenikmatan sekejap ketika berendam di kolam hangat penuh uap itu.

Segala penat dan dingin pun hilang seketika. Sungguh, kehangatan musim dingin Jepang yg mengesankan.  (YULVIANUS HARJONO)

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 19 Februari 2017, di halaman 29 dengan judul “Umur Panjang berkat Wasabi”.


Sumber: Travel Kompas