Teknik Aklimatisasi Untuk Menghindari AMS Saat Mendaki Gunung

By | February 28, 2017

JAKARTA, Bongarzonefuneralhome.us – Mendaki gunung yaitu aktivitas outdoor yg menyehatkan. Dalam mendaki gunung, tubuh kami mulai dituntut bagi terus bergerak dan harus dalam kondisi sehat bugar.

Oleh karena itu, latihan fisik dan mental sebelum naik gunung sangat dibutuhkan, apalagi buat mendaki gunung di atas 4.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dalam mendaki gunung baik, ada salah sesuatu teknik yg harus pendaki pelajari buat menghindari gejala terkena penyakit Acute Mountain Sickness atau AMS.

“Teknik tersebut adalah teknik aklimatisasi. Aklimatisasi yaitu upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi terhadap suatu lingkungan baru yg mulai dimasuki. Untuk mendaki gunung, konteks aklimatisasi di sini adalah penyesuaian tubuh terhadap ketinggian tertentu,” kata Mountain Guide di Indonesia Expeditions, Rahman Muchlis pada acara ‘Sharing Tips dan Pengalaman Mendaki Gunung di Atas 4.000 mdpl’ di Consina Store Buaran, Jakarta, Sabtu (25/2/2017).

Pada kesempatan itu Rahman memberikan berbagai tips kepada para peserta yg hadir. Berikut KompasTravel rangkum tips bagi melakukan aklimatisasi atau penyesuaian tubuh terhadap ketinggian pada ketika mendaki gunung.

1. Mendakilah dengan ritme yg konstan dan perlahan, hindari mendaki terlalu cepat ketika memasuki zona altitude yg lebih tinggi.

2. Untuk proses aklimatisasi yg lebih baik, Rahman menjelaskan, “Mendakilah ke tempat yg lebih tinggi dan bermalamlah di tempat yg lebih rendah.”

Firman Firdaus/National Geographic Indonesia Siluet pendaki di puncak Gunung Tambora berketinggian 2.850 meter. Gunung bertipe stratovolcano aktif ini terletak di Pulau Sumbawa, Indonesia dan pernah mengalami letusan mahadahsyat tahun 1815.

Contohnya dalam perkara mendaki gunung di atas 4.000 mdpl, seandainya jarak antara pos A dan pos B melampaui ketinggian 4.000 mdpl, dari pos A mendakilah ke pos B.

Kemudian, turunlah kembali ke pos A bagi bermalam di sana. Proses ini mulai membuat aklimatisasi berjalan lebih baik.

3. Minum secara teratur. Aklimatisasi kadang kali disertai dengan kehilangan cairan, sehingga kami perlu bagi minum teratur setidaknya 4-7 liter per hari. Output urin juga harus berlimpah dan jernih.

4. Makan-makanan berkalori tinggi.

5. Istirahat dan tidur yg teratur, kurang lebih 6-8 jam. Kurangnya istirahat dan tidur mulai membuat kerja tubuh kurang maksimal.

6. Tenang dan tak terlalu banyak melamun. Lakukanlah aktivitas ringan buat menjaga tubuh supaya tetap bergerak.

Disarankan juga buat beraktivitas di cahaya matahari pada siang hari daripada tidur. Jika tidur, intensitas pernafasan mulai menurun dan memperburuk gejala AMS.

7. Hindari mengonsumsi alkohol, tembakau, dan obat penenang (contohnya obat tidur). Hal ini mampu menghambat pernafasan dan memperburuk gejala AMS.

8. Gunakan semua pakaian dan peralatan sesuai dengan kebutuhan dan ketinggiannya.

KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Mineral Indonesia menuruni Gunung Merapi (2.896 mdpl) sambil memungut sampah di jalur Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (8/6/2014).

9. Jika akan terjadi gejala penyakit ketinggian seperti pusing, mual, dan sesak nafas, jangan mendaki lebih tinggi sampai gejala tersebut hilang. Jika gejala meningkat, turunlah ke tempat yg lebih rendah.

10. Perlu diingat bahwa kemampuan adaptasi setiap orang terhadap ketinggian berbeda-beda. Pastikan setiap orang dalam tim Anda sudah beradaptasi dengan baik terhadap ketinggian dan iklimnya sebelum naik ke tempat yg lebih tinggi.

“Untuk menjalankan proses aklimatisasi, pendaki dituntut buat tetap sabar dan disiplin. Ingat bahwa tujuan mendaki gunung tak cuma menggapai puncaknya, tetapi bagi kembali berkumpul bersama orang tersayang di rumah,” tutup Rahman.


Sumber: Travel Kompas