Sup Sirip Ikan Hiu, Kuliner Bergengsi Sejak Zaman Kekaisaran China…

By | January 26, 2017

JAKARTA, Bongarzonefuneralhome.us – Sup sirip ikan hiu biasa dikenal sebagai hidangan bagi merayakan Imlek. Sup dengan kuah kaldu yg juga biasa dikenal dengan sebut “Sup Hisit” itu disajikan juga bersama asparagus hingga bahkan udang.

Ternyata, sup sirip ikan hiu milik cerita yg berasal dari negeri asalnya sejak ratusan tahun yg lalu. Tepatnya, sup sirip ikan hiu berawal dari dinasti Zhou.

Sejarah di Tiongkok banyak kerajaan-kerajaan. Sebenarnya sejarah ini ditarik balik ke dinasti Zhou, Song, dan Ming,” kata Kepala Studi dan Penelitian Budaya Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia Aji “Chen” Bromokusumo dalam acara Diskusi Terbuka “Menghilangkan Hiu dari Menu” di Jakarta, Rabu (25/1/2017).

(BACA: Saat Imlek, Mengapa Tak Perlu Makan Sup Sirip Ikan Hiu?)

Pada masa-masa kerajaan China, sup sirip ikan hiu adalah salah sesuatu hasil olahan yg kerap disajikan. Pada masa itu, orang kaya di China ingin memamerkan gengsi dari jabatan yg diembannya.

“Secara budaya, tidak ada arti khusus (dari sajian sup sirip ikan hiu). Secara kesehatan, tidak ada manfaat khusus. Karena buat yg sanggup beli dan makan kala itu cuma kaisar. Ini telah ada ratusan tahun yg lalu,” jelas Chen kepada KompasTravel.

Ia mengatakan, dulu ada anggapan pada sajian makanan mencerminkan status sosial. Sirip ikan hiu sendiri adalah barang yg langka pada masa itu.

“Semakin langka ikannya, semakin memamerkan status sosialnya,” tambahnya.

(BACA: 9 Makanan di Menu Imlek dan Maknanya…)

Imlek sendiri erat kaitannya dengan nilai-nilai syukur atas kekayaan, panjang umur, dan kesuksesan. Hasil yg didapatkan selama tahun disyukuri melalui bentuk makanan dari tiga unsur, yakni air, udara, dan darat.

Ucapan syukur dalam Imlek ada tiga. Mewakili darat, laut, dan udara. Darat itu ada menu babi, laut itu ikan, dan udara itu ayam dan itik,” tambah Chen.

Hidangan dengan bahan penting dari ikan hiu milik dua akibat yg membahayakan tubuh manusia. Bahaya tersebut berasal dari kandungan merkuri yg ada pada ikan hiu.

“Kalau dari segi kesehatan, itu telah banyak rilis dari IPB (Institut Pertanian Bogor) dan juga BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Memang merkuri ini dampaknya enggak sesuatu beberapa tahun, tetapi mulai pasti kelihatan,” jelas Koordinator Konservasi Ikan Hiu dari Lembaga World Fund Indonesia Dwi Ariyoga Gautama kepada KompasTravel seusai acara Diskusi Terbuka “Menghilangkan Hiu dari Menu” di Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Yoga mengatakan, merkuri mampu menyebabkan kelainan saraf untuk pengonsumsi ikan hiu. Pada ibu hamil, lanjutnya, bayi kemungkinan dapat mengalami kelainan ketika lahir.


Sumber: Travel Kompas