“Si Hitam Manis” Jadi Primadona Pidie Jaya

By | January 20, 2017

MEUREUDU, Bongarzonefuneralhome.us – Nuwita (20) tampak duduk santai di sebuah pondok kecil di Desa Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, Aceh, Rabu (18/1/2017). Sesekali dia menunduk, melihat ke arah smart phone di tangannya.

Lalu, ia menengadah dan melihat ke jalan lintas nasional Medan-Banda Aceh di depannya. Di tempat itu, Ita, begitu dia memanggil dirinya menunggu pembeli buah manggis. Ya, Ita tidak sendiri.

Sepanjang kiri-kanan lintas nasional itu berjejer puluhan pedagang buah manggis saban hari. Tanpa kenal musim. Buah manggis itu diikat rapi memanjang ke bawah.

(BACA: Legit dan Murah, Ini Dia Roti Selai Khas Aceh)

Semakin panjang deretan buah manggis itu maka semakin mahal pula harganya. Harga termurah, Ita mematok Rp 15.000 per ikat. “Satu ikat 15 buah manggis, artinya seribu rupiah sesuatu buah manggis,” katanya sambil tersenyum.

Dia pun dulu memamerkan dua macam ikatan buah manggis. Ada juga ikatan yg panjangnya nyaris 30 sentimeter. “Harga yg itu 50 ribu,” telunjuk Ita mengarah ke sebuah ikatan buah manggis.

Bongarzonefuneralhome.us/MASRIADI SAMBO Pedagang buah manggis di Desa Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, Aceh, Rabu (18/1/2017).

Puluhan tahun lalu, pedagang buah manggis menggelar dagangannya di sepanjang jalan itu. Namun, tidak ada yg tahu pasti sejak kapan aktivitas itu dimulai.

“Seingat saya, saat aku masih kecil telah ada yg berjualan di sini,” kata Nursyiah, pedagang lainnya. Kini, Nur berusia 40 tahun.

Saat itu, Kabupaten Pidie Jaya masih bergabung dengan Kabupaten Pidie. Baru pada 2 Januari 2007 dulu Kabupaten Pidie Jaya, menjadi daerah otonom.

“Manggis ini dibeli dari petani. Kalau yg sekarang itu segera dari Pidie Jaya. Karena sedang musimnya,” kata Nur.

Sementara, di yang lain waktu mereka juga mendatangkan buah manggis dari Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. “Bahkan terkadang dari Besitang Sumatera Utara. Makanya, mampu jualan manggis sepanjang hari tanpa harus menunggu musimnya tiba,” terang Nur.

Bongarzonefuneralhome.us/MASRIADI SAMBO Pedagang buah manggis di Desa Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, Aceh, Rabu (18/1/2017).

Jika musim buah lainnya seperti rambutan dan durian tiba, Nur juga menjual buah-buahan itu selain manggis. Di bawah gantungan manggis, diatur rapi rambutan hari itu. Harganya Rp 7.000 per ikat.

“Ini telah menjadi khas, jadi untungnya lumayan. Banyak pembeli yg melintas dari Banda Aceh ke Medan atau sebaliknya singgah bagi membeli buah manggis,” kata Ita dan diiyakan Nur.

Nah, Anda menikmati liburan atau sekadar melintas lewat jalur Medan-Banda Aceh, maka nikmatilah manggis sepuasnya. Rasanya, dipastikan manis. Dan, kini si hitam menjadi primadona Pidie Jaya.


Sumber: Travel Kompas