Pasar Imlek Kembali Digelar Di Semarang

By | January 26, 2017

SEMARANG, KOMPAS – Pasar Imlek Semawis di Kota Semarang, Jawa Tengah, kembali digelar pada 24-26 Januari 2017. Pergelaran ke-14 kali ini mengangkat tema ”Obar-Abir” atau keberagaman. Berbagai pameran dan pentas seni kebudayaan Tionghoa digelar bagi menarik wisatawan.

Pasar Imlek Semawis (PIS) berlokasi di sepanjang jalan Gang Pinggir hingga Wot Gandul Timur kawasan Pecinan, Semarang. Di jalan itu dijual aneka kuliner, batik, dan kerajinan tangan khas Imlek.

PIS juga menyajikan pertunjukan wayang potehi, atraksi barongsai, liang liong, lorong lampion, dan pentas kebudayaan Tionghoa lain.

Ketua Komunitas Pecinan Semarang bagi Pariwisata (Kopi Semawis) Harjanto Halim menjelaskan, tema ”Obar-Abir” mencerminkan identitas warga Semarang yg beragam.

Meski berbeda suku, agama, dan ras, mereka tetap menjunjung persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Hal itu kemudian tergambar pada pengunjung PIS dari tahun ke tahun.

(BACA: Imlek Dikemas Jadi Daya Tarik Wisata)

Pada pembukaan Selasa (24/1/2017) malam, PIS menghadirkan suasana jamuan makan bersama dalam pasar malam. Jamuan itu disebut ”Gelar Tok Panjang” yg juga digelar pada PIS tahun lalu.

Tamu undangan menyantap makan bersama di meja sepanjang 200 meter. Makan bersama dihadiri pejabat, komunitas, pengusaha, dan tokoh masyarakat.

”Jamuan Gelar Tok Panjang diambil dari filosofi Imlek. Tradisi makan dan duduk bersama keluarga besar pada malam Imlek,” ujar Harjanto.

Harjanto mengatakan, ragam kuliner khas Imlek menjadi salah sesuatu daya tarik pengunjung PIS.

Kuliner yg disajikan antara yang lain lunpia capgome, sup shanghai, brokoli siram jamur, kacang bawang, kueh basahan, dan nasi ayam Hainan. Sebagian kuliner hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Semarang.

(BACA: 9 Makanan di Menu Imlek dan Maknanya…)

Setiap hari, PIS menggelar diskusi seputar kopi di Gedung Rasa Dharma (Boen Hian Tong) yg terletak di Gang Pinggir akan pukul 10.00.

Selain itu, terdapat pameran sketsa dari Sketchwalk Community bertajuk ”Lorong Itu Bernama Gang Cilik”.

Pada Selasa siang, sebelum pembukaan PIS 2017, digelar acara Pasar Srawung: Gelar Tikar Makan Bersama dan sarasehan membahas PIS dari tahun ke tahun.

Bahkan, digelar lokakarya ”Hidup Sehat dengan Sayur dari Rumah Sendiri (Hidroponik)” di panggung utama, yg terletak di pertigaan Jalan Gang Pinggir-Jalan Gang Gambiran.

Lokakarya bagi warga sekitar itu bertujuan membangun dan memperbaiki daerah pecinan.

Keberagaman

Menurut Harjanto, tema keberagaman yg diangkat PIS 2017 sangat relevan dengan keadaan Semarang ketika ini. Jumlah etnis Tionghoa di Semarang cukup tinggi dibandingkan kota besar lainnya. Itu tecermin dari keberadaan kelenteng dan rumah ibadah sekitar 70 buah.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Semarak Pasar Semawis yg diselenggarakan menjelang perayaan Imlek di kawasan Pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (24/1/2017). Tradisi Pasar Semawis tersebut juga sudah menjadi ruang bertemu dan berinteraksi sosial warga masyarakat dalam keberagaman.

Di antara etnis Tionghoa itu, suku dan agama juga beragam. ”Pluralitas adalah identitas Semarang. Itu yg harus dikenalkan kepada kaum muda, salah satunya melalui PIS,” kata Harjanto.

Agus Maladi, budayawan yg juga Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, mengatakan, seluruh hal di Semarang adalah akulturasi berbagai budaya.

Makna keberagaman harus dikenalkan kepada kaum muda melalui berbagai kegiatan bagi menumbuhkan rasa saling menghargai antar-umat manusia.

Pasar menjadi tempat bagi memahami keberagaman. Di pasar, seluruh warga berbaur dan saling bertegur sapa tanpa memandang perbedaan identitas. Itu juga yg menjadi tujuan penyelenggaraan PIS.

Dari situlah kesadaran mulai perbedaan mampu tumbuh dan dipahami. Kebinekaan jadi simbol perayaan Imlek. ”Pemahaman tentang pluralitas mampu menghadang isu-isu perpecahan yg marak di sosial media,” kata Agus.

Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Budi Widianarko menilai, penyelenggaraan PIS bukan sekadar menarik wisatawan tiba ke Semarang.

Lebih dari itu, kesinambungan acara mesti dipertanahkan. Sebab, PIS menjadi salah sesuatu media mengenalkan kebudayaan Tionghoa.

”Kaum muda bisa memahami keberagaman dengan bergaul, berteman, dan bersahabat, dahulu menumbuhkan kebersamaan sehingga makna persatuan bangsa Indonesia menguat hingga akar, yakni kaum muda,” ujarnya. (KRN)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Januari 2017, di halaman 21 dengan judul “Pasar Imlek Kembali Digelar”.


Sumber: Travel Kompas