Pariwisata Purworejo Tak Kalah Dengan Yogyakarta

By | February 22, 2017

PURWOREJO, Bongarzonefuneralhome.us – Purworejo adalah salah sesuatu kabupaten di sebelah timur Jawa Tengah yg berbatasan dengan Kulon Progo, DI Yogyakarta. Tak kalah dengan provinsi tetangganya, Purworejo juga milik beragam potensi wisata. Tak kurang dari lima desa wisata yg menyuguhkan berbagai atraksi tumbuh di kabupaten tersebut.

Lima desa wisata yg menjadi unggulan Purworejo tersebut ialah Desa Wisata Somongari, Desa Wisata Karangrejo, Desa Wisata Kaligono, Desa Wisata Tlogowungu, dan Desa Wisata Benowo.

KompasTravel berkesempatan mengunjungi Desa Wisata Benowo di sela-sela acara Famtrip Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Jawa Tengah. Desa tersebut berada di, Kecamatan Bener, Kebupaten Purworejo, Jawa Tengah, sekitar sesuatu jam dari pusat kota Purworejo juga dari Kulon Progo.

Rombongan famtrip yg terdiri dari Dinporapar, media, blogger, dan pelaku wisata, kemudian disambut oleh hangatnya keramahan warga Benowo. Hidangan makanan tradisional dan kesenian daerah yakni jatilan pun meramaikan malam penyambutan tersebut, Rabu (15/2/2017).

Kuliner tradisional

Desa yg berada di dataran tinggi ini memiliki camilan khas, merupakan bajingan. Bajingan yaitu ketela atau singkong rebus yg dimasukan ke dalam badek atau rebusan air nira. Bajingan tersebut terasa manis di luar dan gurih di dalam.

Sedangkan minuman tradisionalnya bernama baceng, perpaduan badek atau rebusan nira dengan cengkeh yg banyak ditemui di desa ini. Baceng pun menghangatkan wisatawan di tengah guyuran hujan malam itu.

Bongarzonefuneralhome.us/Muhammad Irzal Adiakurnia Kesenian jatilan atau kuda lumping menjadi tarian tradisional yg dikembangkan di desa Benowo, Purworejo, Jawa Tengah. Beberapa pemuda berpakaian lengkap dengan kuda kayunya menari bak kesatria yg mengikuti irama gamelan, Rabu (15/2/2017).

Kesenian tradisional

Kesenian jatilan atau kuda lumping menjadi tarian tradisional yg dikembangkan di desa ini. Beberapa pemuda berpakaian lengkap dengan kuda kayunya menari bak kesatria yg mengikuti irama gamelan.

Suasana malam penyambutan wisatawan itu pun sontak menjadi meriah, walau di bawah guyuran hujan.

“Untuk wisata alam, yg telah menjadi ikon ada puncak Gunung Kunir yg terdapat golden sunrise dan sunset,” ujar Afdholudin, Ketua Kelompok Sadar Wisata Lembah Kunir Desa Benowo ketika penyambutan, Rabu (15/2/2017) malam.

Potensi wisata alam

Berdasarkan rekomendasi tersebut, KompasTravel dan dua wisatawan lainnya pun berkunjung ke ikon wisata Desa Benowo. Meski hari masih gelap, dua orang telah ada di puncak gunung dengan ketinggian sekitar 870 meter diatas permukaan laut (mdpl).

Bongarzonefuneralhome.us/Muhammad Irzal Adiakurnia Curug Benowo, yaitu curug terbesar di Desa Wisata Benowo. Suasananya asri, bersih, dan jauh dari bising perkotaan, juga terdapat fasilitas seperti parkiran, kamar mandi, dan pendopo ketika dikunjungi, Kamis (16/2/2017).

Puncak tersebut berada di barisan Pegunungan Menoreh, yg membentang dari Magelang hingga Purworejo. Dari atas puncaknya kelihatan guratan emas matahari terbit. Sayangnya pagi itu dalam kondisi tertutup kabut.

Selain pesona mataharinya, dari sana wisatawan bisa melihat pemandangan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan puncak Tidar.

Puas beristirahat sejenak dari puncak Gunung Kunir, wisatawan kemudian menuju tiga curug unggulan desa ini. Curug Benowo adalah air terjun yg terbesar, dulu Curug Batur, dan Curug Padusan.

Curug Benowo yg berada di balik pemukiman warga memiliki ekosistem yg masih asri. Air terjun ini dilengkapi taman buatan, pendopo, dan rumah baca yg tengah dibangun bagi wisatawan. Menuju ke sini cukup mudah, namun buat kendaraan roda empat cuma sesuatu jalur sehingga mulai sulit seandainya berpapasan.

Suasana yg amat asri, bersih, dan jauh dari bising perkotaan membuat Curug Benowo amat nyaman. Di curug ini telah terdapat fasilitas seperti tempat parkir, kamar mandi, dan pendopo. Namun, dari pantauan KompasTravel belum ada warung atau tempat membeli keperluan di sekitar curug. Makanan harus dipesan dari rumah warga sekitar. Selain itu, keberadaan tempat sampah juga masih sedikit.

“Asri ya, curugnya besar, nyaman juga karena masih sepi. Lalu hiasannya juga alami kayak taman bunga, dan pendopo kayu,” ujar Mia, salah satu blogger yg ikut dalam famtrip tersebut, Kamis (16/2/2017).

Dua curug lainnya dikunjungi wisatawan searah jalan pulang. Bisa naik ojek atau jalan kaki, karena letak tiga curug tersebut memang berdekatan. Perjalanan ditempuh menelusuri sawah kebun, dan perbukitan yg masih asri. Perjalanan sejauh tiga kilometer semakin tidak terasa. Terlebih ketika menjumpai Curug Batur dan Curug Padusan di perjalanan.

Bongarzonefuneralhome.us/Muhammad Irzal Adiakurnia Desa Wisata Benowo, memiliki sesuatu situs wisata religi yg milik peninggalan bersejarah, berupa petilasan pangeran Benowo, beserta makam pengawalnya. Setiap penaggalan tertentu petilasannya kerap ramai wisatawan, dari seputar Jawa Tengah, Kamis (16/2/2017).

Potensi wisata religi

“Untuk wisata religi sendiri kita milik peninggalan bersejarah berupa petilasan Pangeran Benowo beserta makam pengawalnya. Lalu guci, piring, dan songsong agung, merupakan payung terbuat dari kayu dan kertas peninggalan pangeran,” ujar Afdholudin pada KompasTravel.

Pangeran Benowo sendiri yaitu salah sesuatu raja dalam masa kejayaan Kerajaan Pajang. Menurut Afdholudin, setiap penanggalan tertentu petilasannya kerap ramai wisatawan, dari seputar Jawa Tengah dan sekitarnya.

Menilik hasil perkebunan masyarakat Desa Benowo, mayoritas komoditi di sini ialah cengkeh dan kopi robusta Benowo. Keduanya menghiasi kuliner warga setempat, dan mampu menjadi buah tangan wisatawan tentunya.

“Banyak lagi sebenarnya yg berpotensi tetapi belum kita kelola. Hanya PR-nya ada di tata ruang tata kelola destinasi, pengolahan dan pemasaran kuliner, serta sertifikasi pelatihan SDM, hingga akses jalan,” tutup Afdholudin.


Sumber: Travel Kompas