Mi Panjang Umur Pada Tradisi Imlek Dan Cap Go Meh Di Singkawang

By | February 15, 2017

SINGKAWANG, Bongarzonefuneralhome.us – Mulai perayaan Imlek hingga Cap Go Meh memiliki arti tersendiri buat masyarakat Tionghoa di Indonesia, salah satunya dari berbagai tradisi khas yg digelar sepanjang waktu tersebut.

Meskipun di dua daerah kerap memiliki tradisi khasnya masing-masing, tapi tetap ada tradisi yg sama, seperti pawai liong-barong serta lampionnya. Salah sesuatu tradisi yg ditunggu-tunggu etnis tersebut ialah makan makanan khas bersama keluarga besar.

Tepat sesuatu hari sebelum Imlek, di Singkawang, Kalimantan Barat, masyarakat keturunan Tionghoa berhenti bekerja dan berkumpul dengan keluarganya, salah satunya buat makan besar.

Satu hidangan yg tidak boleh terlewat ialah mi panjang umur. Mi ini memang cuma dibuat di Singkawang, pabriknya pun cuma ada sesuatu di Pasar Utama Singkawang.

“Gak boleh terlewat, sebelum Imlek harus makan mi panjang umur bersama keluarga. Setelah Cap Go Meh dibagikan ke keluarga-keluarga yg mau pulang lagi ke perantauannya,” ujar Ajang (58) yg yaitu salah sesuatu tetua masyarakat Tionghoa Singkawang, kepada KompasTravel ketika berkunjung dalam rangka Oppo Selfie Tour ke perayaan Cap Go Meh Singkawang 2017, Sabtu (11/2/2017).

Ia menjelaskan, mi ini sebenarnya bernama Mi Asin Singkawang, tapi masyarakat lebih terbiasa dengan sebutan “mi panjang umur” karena filosifi dibaliknya dan wujudnya yg memang sangat panjang.

KOMPAS.COM/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Salah sesuatu keluarga tatung dari Perguruan Naga Putih, dengan Dewi Bun Bui Ha sebagai ketua rombongannya ketika Cap Go Meh Singkawang, Sabtu (11/2/2017).

Setiap sebelum Imlek hingga setelah Cap Go Meh, etnis Tionghoa Singkawang saling berbagi hidangan tersebut, sedangkan di luar Imlek, mi tersebut tetap dijual sebagai kuliner khas Tionghoa Singkawang.

“Kita pasti kumpul bareng sesuatu keluarga besar, selalu disediakan mi panjang umur di tempat besar. Makannya harus bersama pakai sumpit, tetapi diacak-acak dulu, ” ujar Meiliza salah sesuatu Puteri Pariwisata Singkawang yg keturunan Tionghoa kepada KompasTravel.

Mi yg berwarna putih polos tersebut disajikan dengan bumbu asin khas dan lauk ikan maupun ayam, bahkan ada juga yg memakai sirip hiu. Prosesi sebelum seluruh anggota memakannya, mereka harus memegang sumpit bersama dulu mengacak-acak mi tersebut.

Meiliza menyampaikan di balik makan Mi Asin Singkawang tersebut terselip makna kebersamaan keluarga yg jarang sekali terwujud selain ketika Imlek.

Dalam prosesi tersebut juga terselip doa panjang umur, seperti wujud minya yg sangat panjang seakan tidak berujung.

Mi Asin Singkawang sendiri terbuat dari bahan tepung biasa, polos tanpa diberi warna. Sedang panjang tiap helainya rata-rata beberapa meter tanpa putus.


Sumber: Travel Kompas