MataRakyat, Solusi Quick-Real Count Pilkada DKI Jakarta

By | January 20, 2017

Seluruh perhatian masyarakat mulai tertuju pada hari pencoblosan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yg jatuh tanggal 15 Februari 2017 mendatang. Semua penasaran siapa yg mulai mendulang suara terbanyak dari 7,1 juta pemilih di 13.000 TPS semua pelosok ibu kota.

Untuk menolong menjawab keingintahuan masyarakat mulai hasil Pilkada DKI Jakarta dengan lebih cepat, inTouch Innovate Indonesia bekerjasama dengan dua mitra seperti Microsoft Indonesia mengembangkan MataRakyat, sebuah aplikasi penghitungan suara yg bisa menginformasikan hasil penghitungan secara riil dan cepat (real and quick count). Hanya dua menit setelah masing-masing TPS memperoleh suara akhir.

“Hasil resmi penghitungan suara mulai disampaikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam 12 hari setelah tanggal 15 Februari. Selama rentang waktu tersebut, sistem quick count yg mengambil sampling 2 persen dari total data real count biasanya masih menjadi andalan bagi memprediksi hasil Pilkada. Tahun ini, aplikasi MataRakyat yg memanfaatkan cloud service Microsoft Azure pun hadir bagi menolong memberikan hasil survei secara riil dan cepat dengan metode Crowd Participation oleh eSaksi relawan,” ujar Hendra Kendro, CEO inTouch Innovate Indonesia.

eSaksi adalah relawan yg tersebar di lima wilayah DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu yg memakai ponsel masing-masing buat mengunggah hasil pemilihan ke server MataRakyat secara real time dari masing-masing TPS. Tepat saat TPS ditutup dan Formulir Plano C1 ditandatangani para saksi.

Untuk menjamin akuntabilitas dan keabsahan hasil penghitungan cepat yg dikerjakan oleh ribuan relawan di 13.000 TPS ini, MataRakyat menerapkan dua metode dan teknologi.

“Untuk memastikan cuma warga DKI yg terdaftar di DPT yg mampu mendaftar menjadi eSaksi. Nama sesuai KTP dan NIK eSaksi mulai divalidasi terhadap database KPU melalui API (Application Program Interface),” kata Dhana Galindra, Project Manager MataRakyat.

Lalu buat menjamin bahwa data yg diketik dan foto formulir C1 yg diunggah oleh eSaksi berasal dari TPS yg benar dan pada waktu yg tepat (saat TPS tutup), MataRakyat memakai teknologi GeoTagging (menvalidasi lokasi berdasarkan koordinat GPS) dan Time-Stampped.

Untuk memastikan angka yg diketik sama dengan bukti foto Formulir C1, MataRakyat menerapkan metode peer validation dimana data yg diunggah oleh setiap eSaksi mulai divalidasi oleh eSaksi dari TPS yang lain yg dipilih oleh sistem secara acak sebelum direkap oleh server MataRakyat.

“Penggunaan validasi eSaksi, GeoTagging, time-stampped, dan peer validation ini kalian harapkan mulai menjamin hasil MataRakyat yg lebih akurat, independen, dan akuntabel,” jelas Dhana.

Dalam membangun aplikasi nirlaba ini, Microsoft Indonesia memberikan dukungannya melalui penyediaan cloud service, Azure. Ruben Hattari, Corporate Affairs Director, Microsoft Indonesia mengatakan, “Pada hari Pilkada, jutaan data mulai masuk ke dalam aplikasi MataRakyat. Azure pun menyediakan kemampuan skalabilitas otomatis, sehingga pengguna bisa tetap merasakan kenyamanan penggunaan di tengah traffic yg tinggi.”

Selain melalui aplikasi mobile dan website MataRakyat, hasil Real Quick Count MataRakyat ini juga mulai disiarkan secara segera melalui MetroTV sebagai official media partner MataRakyat.

Keseluruhan proyek MataRakyat dibangun dari hasil sumbangan relawan perorangan mau pun korporasi; akan dari tim programmer inTouch yg membangun aplikasi secara probono, Microsoft yg menyediakan cloud service Azure, rekan-rekan dari IT-Group, dan terutama para eSaksi relawan yg bersedia bagi bekerja tanpa dibayar dengan memakai ponsel serta pulsa atau kuota internet sendiri.

“Sesuai dengan slogan iVote, iCount, iShare, MataRakyat yaitu platform untuk rakyat yg peduli buat ikut mengawal hasil pemilu yg demokratis dan transparan. Saya percaya hal ini mulai menjadi tren cara rakyat Indonesia memantau hasil pemilu yg mulai datang; termasuk pemilihan legislatif dan pemilihan presiden yg berskala nasional,” tutup Hendra Kendro.

Sumber: Merdeka