Kota Mimpi

By | January 28, 2017

JUDI secara resmi ilegal di bawah hukum Republik Rakyat Tiongkok. Tetapi, hal itu tak berlaku di Makau.

Daerah administrasi khusus Republik Rakyat Tiongkok, yg pernah menjadi ”mantan” koloni Portugis ini, melegalkan judi sejak tahun 1985. Dari cuma berdiri 15 kasino, hingga akhirnya menjelma menjadi Las Vegas-nya Asia.

Kasino mengubah wujud daerah yg dahulunya perkampungan nelayan ketika awal menjadi koloni Portugis 442 tahun yg lalu.

KOMPAS/LASTI KURNIA Patung Mao Zedong di sebuah toko di kawasan turis di Makau.

Puluhan ribu turis tiba ke Makau setiap hari. Tujuannya rata-rata bagi berjudi di 47 kasino yg ketika ini berdiri di Makau.

Hotel dan kasino menjadi lapangan kerja terbesar di Makau. Lapangan pekerjaan berlebih buat Makau yg populasinya cuma sekitar 597,425 jiwa.

Ini membuat Makau bahkan mengimpor tenaga kerja dari sejumlah negara.

KOMPAS/LASTI KURNIA Penjual kaus souvenir di Makau.

Kemudian menjadikan Makau menjelma menjadi ”Kota Mimpi”. Tak cuma buat para penikmat judi, tapi juga para pencari kerja.

Makau yg luasnya cuma sekitar 30,5 km persegi atau kira-kira cuma seperempat luas dari wilayah Jakarta Barat itu, bagaikan daerah yg tidak pernah berhenti berdenyut.

Di jalan-jalan, di areal pertokoan, lalu-lalang manusia memenuhi rute-rute tempat turis menikmati suasana Makau yg seperti kota-kota di Eropa.

Sejuk, dingin, dan diwarisi sejumlah bangunan kuno peninggalan Portugis.

KOMPAS/LASTI KURNIA Senja di depan Kasino Lisboa salah sesuatu kasino moderen pertama yg didirikan pengusaha lokal Stanley Ho, Makau.

Sementara di dalam gedung-gedung kasino yg berbalut ribuan volt lampu hias, dan diawasi oleh ribuan kamera keamanan, aktivitas judi berlangsung 24 jam, ratusan orang lainnya bermimpi bagi meraih ribuan dollar di meja judi. (LASTI KURIA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Januari 2017, di halaman 28 dengan judul “Kota Mimpi”.


Sumber: Travel Kompas