Kopi Utek, Rasakan Pahitnya Kopi Dan Manisnya Nira…

By | February 13, 2017

BANYUWANGI, Bongarzonefuneralhome.us — Jika berkunjung di Desa Banjar Banyuwangi, Jawa Timur, Anda wajib menikmati kopi yg sesuatu ini. Namanya Kopi Utek.

Cara penyajiannya, kopi tanpa gula dan bongkahan gula yg ditempatkan di wadah terpisah. Cara menikmatinya, bongkahan gula nira digigit baru kopi diseruput.

“Suara keletuk ketika menggigit gula nira itu yang berasal nama Kopi Utek khas Banjar Banyuwangi,” kata Lukman Hakim, tokoh adat masyarakat Desa Banjar Banyuwangi kepada KompasTravel, Minggu (12/2/2017).

Ia menyampaikan minum kopi di desanya pada pagi hari telah menjadi tradisi sejak lama dan masih berlangsung hingga sekarang. Namun, karena Desa Banjar adalah penghasil gula nira, maka rasa manis yg biasanya memakai gula pasir diganti dengan gula nira.

“Di sini ada seribuan pohon aren yg diambil sarinya. Kalau di sini nira disebut lirang. Kalau bagi kebun kopinya, ada sekitar 11 hektar kopi rakyat,” ujarnya.

(BACA: Banyuwangi Festival 2017, dari Pecel Pitik sampai Batik)

Sementara itu, Teguh Siswanto dari Banyuwangi Coffee Community kepada KompasTravel menjelaskan, menikmati Kopi Utek tak mulai mengurangi rasa asli dari kopinya.

Menurut dia, seandainya menikmati kopi dengan gula pasir, maka rasa manisnya lebih dominan, berbeda seandainya dinikmati dengan gula nira yg digigit.

“Saya sepakat kalau minum kopi tanpa gula agar tahu taste rasanya. Nah taste kopinya ketemu dahulu baru ada rasa manis dari gula nira. Ini kan tercampur di mulut. Rasanya mulai beda seandainya mencampur gula pasir,” kata Teguh.

Pemilik Kafe Kopi Oseng Plantation yg berada di Desa Banjar tersebut mengatakan, ada keistimewaan tanaman kopi di daerah Banjar, merupakan letaknya di timur Gunung Ijen sehingga terkena sinar matahari langsung, serta mendapatkan uap air garam dari laut Selat Bali dan juga mineral belerang dari Gunung Ijen.

“Keistimewaan itu yg membuat kopi dari daerah sini memiliki taste yg berbeda,” ujarnya.

Untuk menikmati secangkir Kopi Utek, Teguh membanderolnya Rp 5.000 sampai Rp 7.000.

Kopi yg disajikan adalah kopi tubruk yg berasal dari kebun kopi miliknya sendiri yg berada di Desa Banjar, Banyuwangi.

“Kami mengikuti tradisi masyarakat Banjar. Karena penyajiannya tubruk, ya kita sajikan tubruk dan gula niranya kalian dapatkan dari warga sini,” pungkasnya.


Sumber: Travel Kompas