Ketagihan Traveling Bukan Tanpa Risiko…

By | March 23, 2017

Bongarzonefuneralhome.us – Memilih membuka ketimbang menutup mata ketika melayang di atas ketinggian 200 meter di atas Danau Pokhara adalah pilihan sadar Sri Anindiati Nursastri, salah satu travel blogger, saat kali pertama melakukan terbang tandem paralayang.

“Itu kejadian beberapa tahun lalu,” tutur dara yg karib disapa Sastri, dua minggu silam.

Paralayang adalah olahraga ekstrem kali pertama yg dilakoni penulis blog perjalanan wisata ini. Menariknya, olahraga itu dilakoninya di negeri orang, Nepal.

“Waduh, gila nih parah banget! Gue dapat juga sampai di sini! Setelah bertahun-tahun pengin lihat (pegunungan) Himalaya, akhirnya…,” seru Sastri.

Bagi Sastri, kemudian, adrenaline rush yang dialaminya malahan membuatnya tidak takut seandainya harus jatuh dari ketinggian itu. “(Kalau) gue mau jatuh? Jatuh aja, bodo amat!” katanya lagi.

Sastri mengaku, Nepal adalah destinasi incarannya sejak lama. Boleh dikatakan, negeri yg bertetangga dengan Tibet itu ada di dalam bucket list perjalanan idamannya.

“Ada prayer flags (bendera-bendera doa) di Nepal,” katanya yg merasa beruntung lantaran dapat bertandang ke Nepal gara-gara mendapat tiket promo penerbangan.

“Virus” Tintin

Dari hati kecil Sastri, sasaran perjalanan yg paling menjadi dambaan justru Tibet. Nah, inspirasi ke Tibet yg mengguncang-guncang hasratnya itu berawal ketika dirinya membaca buku bergambar bertajuk Tintin in Tibet karya Herge.

Adalah Sang Ayah, Sulistio, yg memperkenalkan Tintin pada Sastri. Waktu itu, perempuan kelahiran 6 Februari 1988, baru berusia empat tahun.

Dokumentasi pribadi Sri Anindita Nursastri. Travel blogger, Sri Anindita Nursastri.

“Bapak baru pulang dinas dari Eropa dan membelikan (buku cerita bergambar) Tintin. Aku suka lihat gambarnya,” tutur pemilik akun @sastrii di Instragam ini.

Sastri berujar, Tintin in Tibet baginya adalah buku cerita bergambar pertama dari 20 serial Tintin, yg berlatar belakang bukan Eropa.

Dari buku itu, Sastri, mendapat gambaran bahwa orang Tibet bermata sipit dan berkulit coklat. Di Tibet juga ada salju.

“Tibet tampaknya penuh dengan ‘ingar-bingar’ dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya yang rapi,” ujarnya.

“Dari buku itu saya merasa kayaknya enak deh ke Tibet. Aku melihat panca inderaku jalan waktu baca Tintin in Tibet,”  imbuhnya.

Rasa ingin tahu yg terus-menerus berkecamuk di dalam hati, kata Sastri melanjutkan kisahnya, juga sedikit banyak dipengaruhi oleh sosok Tintin yg berprofesi sebagai wartawan. Sepertinya, ada “virus” Tintin di benak Sastri. Tentu saja, virus dalam arti positif, bukan yg lain.

Profesi wartawan, dalam sudut pandang sementara kalangan, adalah profesi yg menuntut sikap skeptis, terus mempertanyakan berbagai hal. Selain itu, wartawan harus mempunyai naluri cerdik bagi berpikir berbeda dengan kebanyakan orang demi menemukan kebenaran. Wartawan juga harus bisa mengeksplorasi berbagai tantangan sekaligus tak mengenal kata berpuas diri.

Rasa itulah, kemudian, yg mendasari keinginannya bagi selalu bepergian menikmati tempat-tempat wisata. “Traveling itu sama pentingnya dengan kebutuhan primer. Sastri sampai ketagihan traveling!” tulis laman mozaic.co.id tentang perempuan murah senyum ini pada 4 Desember 2015.

“Sebenarnya keinginan traveling muncul karena penasaran dengan tempat-tempat lain. Sekali saja traveling, kalian telah dilumuri perasaan adiktif. Pengen jalan lagi, lagi, dan lagi…,” kata Sastri, masih di laman tersebut.

Dok pribadi Sri Anindita Nursastri Travel blogger Sri Anindita Nursastri.

Saat melakukan perjalanan wisata, Sastri, pemilik blog https://anindiati.wordpress.com ini mengaku lebih suka menjadi traveler independen. Makanya, dirinya bersiap menanggung risiko bagi membuat daftar kunjungan sendiri.

Ia juga senang memperpanjang waktu berkunjung. Konsekuensi yg mesti ditanggung Sastri, lulusan Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung ini, adalah tambahan biaya penginapan dan makan. Andai perjalanan wisatanya ditanggung pihak lain, Sastri mengupayakan agar tiket perjalanan pulang telah pasti diperolehnya.

Sastri paham, tetap saja ada risiko baik ringan maupun berat yg mengadang kegiatannya. Maka dari itulah, pribadi seperti Sastri dengan segudang kegiatannya sebagai travel blogger tetap memerlukan perlindungan asuransi untuk menghindari risiko kecelakaan.

Untuk kriteria layanan asuransi, program proteksi dalam jangka pendek dapat menjadi pilihan. Terlebih lagi, biasanya perjalanan cuma dipatok kurang lebih sesuatu minggu.

Layanan dari FWD Life yang menyediakan fasilitas “Asuransi Bebas Aksi Flash”, misalnya, dapat jadi pilihan.

Ada tiga perlindungan pada fasilitas tersebut yakni risiko kecelakaan, penggantian pengobatan, sampai dengan perlindungan andai nasabah meninggal dunia. Tak hanya itu, premi fasilitas asuransi ini akan dari Rp 30.000 berikut masa perlindungan sesuai jangka waktu kegiatan akan dari hitungan sepekan.

Dengan begitu, tidak perlu cemas berhadapan dengan risiko bahaya ketika melakukan perjalanan bukan?

Sumber: Travel Kompas