Ingin Jadi Pramugari Maskapai Asing? Simak Penuturan Ajeng Dan Jeany

By | February 13, 2017

SINGAPURA, Bongarzonefuneralhome.us – Pramugari bukan sembarang profesi. Tugasnya tidak mampu dikatakan ringan, meski cuma melayani penumpang di udara.

Apalagi bekerja sebagai pramugari di maskapai asing, melayani penumpang berbagai bangsa dengan beragam karakter yg berbeda.

Silk Air, maskapai penerbangan full service, anak perusahaan Singapore Airlines tidak melulu merekrut awak kabin dari Singapura semata, namun juga merekrut awak kabin dari negara Asia, terutama negara-negara yg menjadi destinasi Silk Air.

(BACA: Indonesia Bujuk Maskapai Asal Singapura Buka Rute Baru)

Hingga kini, tercatat ada 11 pramugari Indonesia bekerja di Silk Air. Maskapai ini terbang ke 12 kota di Indonesia yakni Bali, Balikpapan, Bandung, Lombok, Makassar, Manado, Medan, Palembang, Pekanbaru, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Saat KompasTravel mengunjungi Singapura, Selasa (7/2/2017), berkesempatan bertemu segera dengan beberapa pramugari Indonesia yg bekerja di sana.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Suasana pelatihan pramugari dan pramugara Silk Air di Bandara Changi, Singapura, Selasa (7/2/2017).

Di salah sesuatu ruangan di Bandara Changi, para pramugari dan pramugara dilatih oleh Teo Hwee Hoon, selaku Manager Cabin Crew Silk Air, bagaimana melayani penumpang, akan menawarkan makanan dan minuman, menyiapkannya hingga menegur penumpang secara sopan.

Simulasi dikerjakan secara bergantian bagaimana mereka seakan-akan melayani penumpang di udara.

(BACA: Cerita Pramugari Garuda yg Gendong Seorang Nenek di Pesawat)

Apa menariknya menjadi pramugari Silk Air? “Bertemu banyak orang dengan tipe penumpang dan karakter yg berbeda-beda,” kata Rahajeng Kusumawati Guntoro (31) atau akrab disapa Ajeng ini.

Ajeng mengaku telah 7 tahun bekerja sebagai pramugari Silk Air. Sarjana Komunikasi UPN Jatim ini awalnya cuma coba-coba saja ketika melamar menjadi pramugari Silk Air.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Jeany Dewi Wirjono (kiri) dan Rahajeng Kusumawati Guntoro (kanan), beberapa pramugari Indonesia yg bekerja di maskapai penerbangan Silk Air.

“Ikut tes di Surabaya, malah aku diterima,” kata Ajeng yg kini tinggal bersama suaminya di Singapura.

Pengalaman yg paling berkesan adalah ketika terbang ke Medan ada seorang penumpang memberikan makanan. “Biasanya mereka yg memberikan makanan itu profesinya sama-sama bekerja sebagai awak kabin,” terang Ajeng.

Namun, lanjutnya, setelah dicek, ternyata yg memberi makanan tadi hanyalah penumpang biasa. “Pengalaman yg sangat berkesan,” ujarnya.

Ajeng melanjutkan, terbang paling jauh dengan Silk Air adalah ke Cairns, Australia yg menghabiskan waktu sekitar 5 jam di udara.

Saat menghadapi penumpang yg rewel, Ajeng pun memiliki kiat tersendiri.

“Kita telah memiliki aturan baku. Jadi tinggal ikuti saja aturan itu. Yang utama menegur secara sopan dan profesional,” sambungnya.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Suasana pelatihan pramugari dan pramugara Silk Air di Bandara Changi, Singapura, Selasa (7/2/2017).

Sementara Jeany Dewi Wirjono (30), pramugari Silk Air yg juga berasal dari Surabaya ini awalnya melamar ke Silk Air karena mengaku bosan sebagai pegawai kantoran.

Senada dengan Ajeng, Jeany yg jebolan Kriya Tekstil ITB Bandung ini sama-sama mengaku coba-coba melamar sebagai pramugari atas anjuran seorang teman. “Coba-coba akhirnya lolos,” kata perempuan yg telah 4 tahun menekuni profesi pramugari di Silk Air.

Disinggung mengenai penghasilan yg diterima sebagai pramugari maskapai asing, keduanya hanya tersenyum. Namun mereka sepakat penghasilan sebagai pramugari memungkinkan mereka buat memenuhi keperluan sehari-hari dan tinggal di Singapura.

Ajeng dan Jeany mengaku kemampuan perempuan Indonesia menjadi pramugari di Silk Air tidak kalah dengan warga negara lainnya. Bekalnya harus berani dan yakin diri.

Dalam seminggu bekerja mereka mampu libur 2 hari. Ajeng dan Jeany sama-sama mengisi waktu cuti dengan berlibur ke berbagai negara.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Suasana pelatihan pramugari dan pramugara Silk Air di Bandara Changi, Singapura, Selasa (7/2/2017).

Jeany yg masih lajang ini mengaku mengisi cuti tahunan dengan berwisata ke berbagai destinasi menarik seperti Shanghai, Hanoi hingga Cebu.

Sementara Ajeng tahun ini mulai berlibur ke Jepang bersama keluarga. Tentu transportasi udara gratis karena memakai Silk Air.

Keduanya belum terpikir sampai kapan berprofesi sebagai pramugari. Sedangkan Silk Air membatasi usia pramugari sampai 40 tahun.

Sampai ketika ini Ajeng dan Jeany sangat menikmati pekerjaan sebagai pramugari di negeri tetangga. Menyukai pekerjaan, bertemu banyak orang, terbang ke berbagai negara dan dapat jalan-jalan…


Sumber: Travel Kompas