Filosofi Di Balik Keunikan Kuliner Korea

By | February 9, 2017

TRADISI kuliner terus mencerminkan budaya komunitas penyangganya. Hal ini berlaku tak cuma buat kuliner Nusantara yg memiliki aneka citarasa cukup kaya.

Namun juga tampak dalam tradisi kuliner bangsa lain. Di antaranya kuliner Korea yg kini juga banyak bermunculan di dua titik di ibu kota. Tengok saja, misalnya, di sepanjang Jalan Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan.

Ikon-ikon budaya pop yg kini banyak digemari anak negeri telah banyak diketahui orang. Yang belum banyak diketahui adalah bahwa negeri ginseng itu mempunyai tradisi kuliner yg tergolong unik.

Sebagaimana dipaparkan dalam Korean Cuisine: Refresh Your Sense, buku panduan yg diterbitkan Korea Tourism Organization, kuliner Korea memiliki nilai filosofi, ilmiah, dan medis yg menarik buat diungkap lebih jauh.

Jejak Budhisme dalam tradisi kuliner Korea

Makanan Korea adalah sumber energi yg baik. Bagi orang Korea, energi tidak semata berkaitan dengan kekuatan fisik. Namun juga bertaut dengan kekuatan jiwa dan pikiran. Tak heran seandainya kearifan tradisional Korea mengatakan, “Masakan dan ilmu kedokteran tumbuh dari akar budaya yg sama.”

Oleh sebab itu, “Tak ada ilmu kedokteran yg lebih baik dari masakan”. Kepercayaan tradisional lama ini memperlihatkan pentingnya peran makanan untuk kesehatan fisik dan emosional bangsa Korea.

Sementara filosofi yg terkandung dalam prinsip yin dan yang, dan lima unsur dasar menerangkan kesalingterkaitan antar-unsur. Filosofi ini menerangkan bagaimana seluruh hal-ihwal di alam tumbuh dan berkembang berdasarkan hubungan saling menguntungkan sesuatu sama lain.

Prisnsip yin-yang, misalnya, menjelaskan bagaimana Bumi dan langit dibentuk. Dua energi ini juga kemudian yg menciptakan lima unsur: tumbuhan, api, tanah, logam, dan air. Ada juga lima warna utama: biru, merah, kuning, putih, dan hitam, yg sejalan dengan kelima unsur dasar.

Bahan-bahan dengan warna tersebut dicampur buat menghasilkan makanan yg memungkinkan tubuh menyerap nutrisi secara efisien. Juga membangkitkan selera melalui lima cita rasa esensial, merupakan asin, panas, manis, pahit, dan asam. Di sinilah tampak jejak Budhisme dalam kuliner Korea.

Bila makanan yg berbeda-beda itu dipadukan, sesuatu sama yang lain mulai meningkatkan khasiat makanan tersebut. Ginseng dalam menu samgyetang (sup ginseng), misalnya, menolong menghilangkan stres. Se-ujeot (udang yg diasinkan) yg disajikan dengan bossam (daging yg dikukus dan dibaluti sayuran) bisa menurunkan kegemukan.

Sayuran lebih dominan

Beberapa makanan Korea diolah melalui proses fermentasi. Misalnya, kimchi yg terus jadi menu utama. Bahan pokoknya adalah sawi putih. Fermentasi ini menjadi bagian paling menarik dalam mendiskusikan aspek ilmiah dari makanan Korea. Sebab, bakteri yg baik dari bahan-bahan alami menolong proses fermentasi menghasilkan kandungan nutrisi makanan yg tinggi.

Sayur-sayuran boleh dibilang hal yg jamak dalam masakan orang Korea. Hampir seluruh masakan terus menggunakan sayur sebagai bahannya. Pola makan yg sehat ini tentunya menggambarkan gaya hidup yg sehat pula. Bagi Anda yg vegetarian, menyantap kuliner Korea mampu membangkitkan sensasi yg berbeda. (Intisari-online.com/Rusman Nurjaman)


Sumber: Travel Kompas