Biaya Patroli Kawasan Raja Ampat Belum Ideal

By | February 19, 2017

MEOSKOR, KOMPAS – Masyarakat tiga kampung pemilik ulayat perairan Kepulauan Fam di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, mendeklarasikan perairan laut seluas 360.000 hektar sebagai kawasan perlindungan. Inisiatif masyarakat ini perlu diikuti langkah pengawasan.

Peningkatan patroli pengawasan diperlukan buat mencegah ancaman kerusakan yg disebabkan penangkapan ikan tidak ramah lingkungan.

Kawasan konservasi perairan daerah Kepulauan Fam juga meliputi perbukitan karst Pianemo, yg kerap dijuluki Wayag kecil, hingga Kepulauan Bambu.

Conservation International (CI) Indonesia mencatat, kepulauan yg terdiri atas belasan pulau kecil ini mewakili semua habitat dan ekosistem Raja Ampat, seperti pulau karst, laguna, terumbu karang tepi, terumbu karang dalam, mangrove, dan lamun.

”Kami sangat mengapresiasi dan mendukung inisiatif warga Fam bagi melindungi lautnya,” kata Abdul Faris Umlati, Bupati Raja Ampat, Kamis (16/2/2017), di Pulau Meoskor, Kepulauan Fam.

Bupati menambahkan, pihaknya menyiapkan program peningkatan ekonomi kreatif buat peningkatan kesejahteraan warga.

Di pulau yg berjarak sekitar beberapa jam dari Kota Sorong itu, masyarakat Fam dari Kampung Pam, Saukabu, dan Saupapir mendeklarasikan inisiatif kawasan konservasi perairan daerah.

Area perlindungan laut ini menurut rencana mulai menyusul daerah-daerah yang lain yg terlebih lalu ditetapkan menjadi Taman Wisata Perairan Kepulauan Raja Ampat melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 36 Tahun 2012 tentang Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat.

Taman Wisata Perairan Kepulauan Raja Ampat seluas 1.026.540 hektar (ha) terdiri dari Perairan Kepulauan Ayau-Asia (101.440 ha), Teluk Mayalibit (53.100 ha), Selat Dampier (336.000 ha), Kepulauan Misool 366.000 ha), dan Kofiau-Boo (170.000 ha).

Kepadatan ikan

Pemimpin CI Indonesia Ketut Sarjana Putra memaparkan, pengelolaan perairan melalui jejaring area perlindungan laut di Raja Ampat meningkatkan kepadatan ikan dari 35 menjadi 150 persen.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO Kawasan perairan di Pianemo yg memiliki pemandangan mirip Wayag – sama-sama berada di Raja Ampat Papua Barat – dideklarasikan masyarakat setempat menjadi perairan perlindungan laut Kepulauan Fam. Perairan ini memiliki luas 350.000 ha serta menjadi habitat buat berbagai macam ikan dan karang.

Artinya, sejak kawasan-kawasan itu ditetapkan melalui Perda Raja Ampat No 27/2008 tentang Konservasi Kawasan Laut Daerah, jumlah ikan meningkat dan berimbas terhadap perairan nonkonservasi lain, termasuk ke sekitar Kepulauan Fam.

”Karena itu, wilayah Pianemo mendapat limpahan ikan yg kemudian menjadi sasaran illegal fishing karena tak ada pengelolaan,” katanya.

Karena itu, ia berharap inisiatif masyarakat ini mampu diikuti peningkatan perlindungan serta pengaturan jumlah dan lokasi penangkapan ikan.

Ariel Fakdawer, Kepala Kampung Saukabur, menuturkan, ketika ini perlindungan dikerjakan oleh masyarakat secara swadaya melalui patroli.

Dananya bersumber dari pendapatan tarif masuk wisatawan ke kawasan Pianemo sebesar Rp 300.000 per orang.

Biaya patroli

Di tingkat kabupaten, pendanaan patroli berasal dari pendapatan tarif masuk wisatawan ke Raja Ampat sebesar Rp 1 juta (mancanegara) dan Rp 500.000 (domestik) per orang.

Dari jumlah ini, Rp 750.000 (mancanegara) dan Rp 325.000 (domestik) dikelola Badan Layanan Umum bagi kegiatan patroli, monitoring sumber daya alam, dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Menurut Ketut, dana yg didapat ini masih jauh dari kebutuhan ideal biaya patroli area konservasi.

Ia menyebut, idealnya biaya patroli sekitar 25 dollar AS (Rp 335.000) per hektar per tahun, seperti di Great Barrier Reef, Australia.

Dengan angka ideal itu, Raja Ampat membutuhkan dana Rp 335 miliar per tahun bagi biaya patroli di kawasan taman wisata seluas 1 juta hektar.

Untuk menolong hal ini, CI Indonesia yg rutin mendukung pendanaan patroli akan tahun ini membentuk dana abadi (trust fund) Blue Abadi bersama The Nature Conservancy dan WWF.

Disebutkan, komitmen dana sudah mencapai 35 juta dollar AS. Bunga dana abadi ini, yg mencapai sekitar 1,11 juta dollar AS (bunga 3 persen), mulai digunakan buat mendukung kebutuhan patroli di Raja Ampat. (ICH)

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 18 Februari 2017, di halaman 13 dengan judul “Inisiatif Warga Lindungi Laut”.


Sumber: Travel Kompas