Berkaca Dari Kasus Raja Ampat, Ini Upaya Mencegah Koral Kembali Rusak

By | February 6, 2017

JAKARTA, Bongarzonefuneralhome.us – Pekan lalu, jagat media sosial diramaikan dengan beredarnya tiga foto yg diunggah akun Facebook Stay Raja Ampat. Foto-foto tersebut memamerkan vandalisme pada tiga koral berbeda di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Orang yg mengunggah tiga foto tersebut adalah Doug Meikle, seorang warga negara Australia yg tinggal di Raja Ampat. Doug menjelaskan bahwa foto pertama diambilnya dari posting seorang pengguna Facebook bernama Norm Van’t Hoff dan ditayangkan di Facebook pada 1 Desember 2016.

“Saya tak tahu pasti kapan koral rusak itu ditemukan. Jika Anda melihat dari komentar di postingan tersebut, tampaknya banyak orang yg telah melihatnya terlebih dahulu. Tampaknya pertama ditemukan antara Oktober hingga Desember tahun lalu,” tutur Doug yg menjadi admin Facebook dan situs resmi Stay Raja Ampat kepada KompasTravel.

BACA JUGA: Ketika Vandalisme Terpahat di Koral Raja Ampat

Vandalisme tersebut menarik perhatian netizen yg tentu menyayangkan kejadian itu. Terumbu karang sendiri yaitu makhluk hidup yg menjadi bagian ekosistem laut.

FACEBOOK/STAY RAJA AMPAT Beberapa foto yg beredar di media sosial memamerkan vandalisme di koral Raja Ampat, Papua Barat.

Ke depannya, kejadian ini diharapkan tidak kembali terjadi. Ketua Tim Percepatan Wisata Bawah Air Kementerian Pariwisata, Cipto Aji Gunawan menyampaikan pencegahan aksi vandalisme di karang dapat dikerjakan secara jangka panjang maupun pendek.

“Untuk jangka panjang iada edukasi bagi mengenal terumbu karang itu sendiri. Edukasinya dapat masuk ke kurikulum pelajaran. Memang mulai cukup lama efeknya tetapi itu perlu dimasukkan,” jelas Cipto ketika dihubungi KompasTravel, Senin (6/2/2017).

BACA JUGA: Pulau Kri, Titik Menyelam Populer di Raja Ampat yg Tercoreng

Ia menyampaikan edukasi tentang terumbu karang mampu dimasukkan sejak anak akan sekolah. Cipto menyebut edukasi itu menstimulasi anak mengenal tentang terumbu karang.

“Jangan sampai gambarnya gunung saja. Anak-anak kami belum mengerti laut,” tambahnya.

Penegakan hukum untuk oknum yg melanggar juga mulai diterapkan. Cipto menyebut sanksi dianggap dapat mengurangi tingkat vandalisme di karang.

“Kalau lebih konkrit dan lebih kecil, edukasi segera ke wisatawan dan masyarakat pesisir. Lewat sosialisas itu briefing wisatawan. (Orang) yg briefing harus tahu aturannya,” jelasnya.

Dok. Dito/PT. Pelni Pemandangan bawah laut di sekitar Dermaga Desa Yenbuba, Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Minggu (30/10/2016).

Pemandu-pemandu wisata yg mengantarkan snorkeling atau diving diharuskan memberikan panduan pada wisatawan. Panduan tersebut berisi hal apa yg boleh dan tidak boleh dilakukan.

“Wisatawan kan tidak jarang merusak karena tak mengerti, bukan sengaja mau merusak. Pemandu juga jangan segan-segan menegur wisatawan yg salah,” jelasnya.

Papan-papan pengumuman juga mampu dijadikan sarana pencegahan perusakan terumbu karang. Cipto menyampaikan dalam papan pengumuman dapat dicantumkan larangan-larangan bagi wisatawan ketika snorkeling atau diving.

“Papan-papan itu mampu dipasang dekat dermaga. Nanti pemandu kasih penjelasan tentang larangan itu. Misalnya dilarang membuang sampah dan merusak karang. Buat dalam berbagai bahasa. Itu dapat sebagai fungsi kontrol dari guide,” ujar Cipto.

BACA JUGA: Koral Rusak di Raja Ampat, Kemenpar Siap Berikan Sanksi bagi Operator Selam

Cipto menambahkan, wisatawan sebaiknya juga memiliki pengetahuan konservasi laut agar mampu berwisata ramah lingkungan.

Selain itu, ia menyampaikan wisatawan mampu juga memilih operator wisata yg sudah memiliki sertifikat usaha. Pasalnya, dengan sertifikat tersebut, biasanya operator sudah mengetahui Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam menyelenggarakan kegiatan wisata.


Sumber: Travel Kompas