4 Fakta Temuan Revolusioner Baterai Smartphone Dengan ‘pemadam Api’

By | January 18, 2017

Dalam dua bulan terakhir, betapa berita tentang meledaknya baterai Samsung Galaxy Note 7 sangat mendominasi berita teknologi. Bahkan banyak sekali berita serupa yg muncul namun dengan perangkat lain.Hal ini menggugah para peneliti dan ilmuwan bagi membuat baterai yg tidak dapat meledak. Ternyata baterai semacam ini sudah dikembangkan oleh sekelompok peneliti.Dilansir dari Daily Mail, para peneliti dari Stanford University mendesain baterai yg di dalamnya terpasang ‘pemadam api’ buat menghentikan kandungan yg gampang tersulut api di dalam baterai bagi terbakar.Berikut fakta-faktanya.1. Baterai memang gampang terbakarBaterai yg kalian gunakan sehari-hari adalah baterai Lithium-ion, yg ada di dalam laptop, smartphone, dan berbagai produk elektrik yg dapat dicas. Bagaimana tidak, Lithium-ion memang adalah baterai yg paling praktis karena rechargeable dan tersedia dalam ragam pilihan kapasitas.Di sisi lain, ternyata baterai semacam ini sangat gampang terbakar. Memang hal ini terjadi dalam keadaan yg sangat jarang terjadi. Namun saat baterai terbakar, api yg muncul cukup ekstrem layaknya ledakan.Terlebih lagi baterai semacam ini sangat sensitif terhadap temperatur tinggi. Panas mampu membuat bahan dari baterai kualitasnya menurun dan terbakar. Hal ini dikarenakan baterai Lithium-ion mengandung cairan elektrolit yg sangat gampang tersulut api, dan kondisinya disimpan dalam tekanan tinggi dalam bungkus baterai.2. ‘Pemadam api’ dalam bateraiUntuk pemadam api, tak benar-benar digunakan pemadam api. Alih-alih, para peneliti memakai komponen bernama Triphenyl Phospate, yg bisa memadamkan komponen yg gampang tersulut api.Lithium-ion biasanya terdiri dari beberapa elektroda yakni positif dan negatif, serta cairan atau gel elektrolit yg membawa partikel daya. Baterai ini mulai dengan gampang memanas seandainya kalian terlalu lama mengisi daya, ada arus pendek atau korslet, serta terkena paparan fisik seperti ditusuk. Jika gangguan di baterai cukup parah, temperatur mampu mencapai 150 derajat celcius dan meledak.Namun dengan teknologi baru ini, saat baterai mencapai temperatur 150 derajat celcius, lapisan plastik fiber yg membungkus komponen Triphenyl Phospate tadi mulai meleleh dan komponen tersebut memadamkan potensi api.3. Api mampu padam dalam 0,4 detik sajaDalam uji mencoba pertama, peneliti menemukan bahwa komponen pemadam api tersebut mampu memadamkan potensi api dari memanasnya elektrolit cuma dalam waktu 0,4 detik saja.Teknologi pemisah komponen pemadam dan elektrolit ini berupa lapisan fiber yg dimanfaatkan bagi baterai ini, baru berhasil diterapkan pada baterai ukuran kecil. Menurut para peneliti, masih butuh waktu uji mencoba bagi secara efektif diterapkan pada baterai berukuran besar.4. Jika ledakan berhasil dicegah, kinerja baterai mulai menurunTerdapat sebuah lapisan plastik fiber yg memisahkan komponen pemadam api dan elektrolit. Lapisan ini menjaga kedua komponen ini bersentuhan, kecuali kalau baterai sampai pada temperatur 150 derajat celcius.Permasalahannya hanyalah seandainya telah meleleh, komponen pemadam api ini sangat mengurangi kinerja baterai buat pemakaian normal.Baca juga:
Samsung Galaxy Note 7 masih banyak dipakai, apakah ‘aman-aman saja?’
Segera rilis tahun ini, Xiaomi Mi 6 mulai usung tiga varian
Ini 10 smartphone dengan nilai AnTuTu terbaik, Samsung keok!
Si ‘Bapak Android’ produksi hp baru, mulai bagi Pixel dan iPhone keok
Pakai teknologi pipa penyalur panas, LG G6 mustahil overheat!


Sumber: Merdeka